foto istimewa
SUKABUMI, sukabumilife.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan penuh sekaligus melegalkan program studi di bidang kewirausahaan (entrepreneurship) berbasis pesantren.
Langkah ini dinilai penting agar kurikulum kemandirian ekonomi yang diajarkan di lingkungan pesantrean memiliki payung hukum dan pengakuan yang kuat dari negara. Apalagi, ponpes yang telah berdiri selama 13 tahun ini sudah menerapkan pendidikan kewirausahaan bagi siswa tingkat SMP dan SMA jauh sebelum Kurikulum Merdeka resmi diberlakukan oleh pemerintah.
Implementasi Nyata Lewat Kurikulum Merdeka
Pimpinan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana, mengungkapkan rasa syukurnya karena konsep pendidikan yang mereka terapkan kini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka.
“Alhamdulillah, dengan adanya Kurikulum Merdeka, Ponpes Al-Fath yang sejak lama fokus pada bidang kewirausahaan bagi para siswa SMP dan SMA, kini berharap agar (program ini) didukung penuh dan dilegalkan oleh negara,” ujar KH Fajar Laksana kepada awak media.
Melalui fleksibilitas Kurikulum Merdeka, para santri di Ponpes Al-Fath tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga dibekali dengan berbagai keterampilan bisnis praktis yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan pesantren, para santri dilatih untuk mengelola berbagai unit usaha secara langsung.
Beberapa bidang kewirausahaan yang aktif digeluti para santri antara lain:
- Sektor Produksi: Pembuatan tahu dan produksi alas kaki/sandal.
- Sektor Peternakan: Budidaya ayam, ikan lele, dan belut.
- Sektor Jasa: Pengelolaan pangkas rambut (barbershop) di lingkungan pesantren, serta pelatihan bagi siswa SMA untuk menjadi pemandu wisata (guide) dalam bidang pariwisata haji dan umrah.
baca juga:Viral Nasabah Bisnis Kehilangan Dana Miliaran Rupiah, BCA Minta Waspadai Modus Penipuan Ini
Belajar Ilmu Esensial di Luar Kelas
Menurut KH Fajar Laksana, metode pengajaran kewirausahaan ini dilakukan dengan mengintegrasikan praktik bisnis langsung ke dalam struktur Kurikulum Merdeka. Hal ini sangat memungkinkan mengingat esensi dari kurikulum baru tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi kemampuan di luar ruang kelas.
“Kurikulum Merdeka itu memperbolehkan murid untuk belajar di luar kelas. Dengan kata lain, siswa diajak mempelajari ilmu-ilmu esensial yang nyata dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Jika di tingkat perguruan tinggi, konsep ini serupa dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM),” pungkasnya.
Melalui legalitas dan dukungan dari negara, Ponpes Modern Dzikir Al-Fath berharap lulusan pesantren tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga siap menjadi wirausahawan mandiri yang mampu membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
sumber:sukabumiku.id
(nl)









