FOTO ISTIMEWA
SUKABUMILIFE.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul ditemukannya puluhan kasus penyakit campak dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan hasil pemantauan sejak akhir tahun 2025 hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 23 kasus telah dikonfirmasi positif campak berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, menjelaskan bahwa temuan tersebut menyaring dari total 32 laporan warga yang awalnya diduga (suspect) terkena gejala campak.
“Selama periode tersebut ada 32 kasus yang masuk kategori suspect campak. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, 23 di antaranya dipastikan positif,” ujar Denna kepada wartawan, Senin (16/3/2026).
Denna menambahkan, penyakit campak sejauh ini masih menjadi perhatian serius, baik di tingkat global maupun nasional. Berdasarkan data yang ada, Indonesia bahkan menduduki peringkat yang cukup tinggi untuk sebaran kasus ini di dunia.
“Secara nasional kasus campak masih menjadi perhatian. Bahkan Indonesia tercatat berada di peringkat kedua setelah Yaman dalam jumlah kasus campak,” tuturnya.
Situasi Masih Terkendali, Belum Kategori KLB
Meski ditemukan puluhan kasus positif, Dinkes Kota Sukabumi menegaskan bahwa situasi di wilayahnya saat ini masih terkendali dan belum masuk ke dalam tahap Kejadian Luar Biasa (KLB). Jika dibandingkan dengan grafik tahun lalu, tren kasus campak pada awal tahun 2026 ini justru dinilai mulai menunjukkan penurunan.
“Alhamdulillah untuk Kota Sukabumi belum sampai pada penetapan KLB. Walaupun sempat terjadi peningkatan kasus pada 2025, jumlah kasus pada 2026 ini cenderung mulai melandai. Sampai sekarang juga belum ada laporan kematian akibat campak,” kata Denna menerangkan.
Pernyataan serupa juga ditegaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah. Pihaknya memastikan situasi di lapangan masih dipantau ketat dan belum memenuhi kriteria untuk penetapan status KLB.
Antisipasi Penularan Jelang Arus Mudik
BACA JUGA : Mengubah Dunia: Mengintip Kecerdasan Buatan dan Tren Inovasi Digital Terbaru
Mengingat mobilitas masyarakat yang diprediksi akan meningkat pesat menjelang arus mudik lebaran, potensi terciptanya kerumunan massa menjadi perhatian khusus. Kerumunan di ruang publik dinilai memperbesar risiko penularan berbagai penyakit menular, termasuk campak yang menyebar lewat udara.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes mengimbau masyarakat untuk kembali memperketat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta tetap menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi.
“Masyarakat disarankan menggunakan masker terutama ketika berada di tempat yang ramai atau berkerumun,” imbau Denna.
Kejar Target 1,1 Persen Anak yang Belum Imunisasi
Di sisi lain, senjata utama dalam memutus mata rantai penularan campak adalah melalui pemberian imunisasi. Data internal Dinkes menunjukkan cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Kota Sukabumi pada tahun 2025 sebenarnya sudah sangat baik, yakni mencapai 98,9 persen—angka yang melampaui target nasional.
Kendati demikian, masih ada sekitar 1,1 persen anak di Kota Sukabumi yang tercatat belum mendapatkan hak imunisasinya.
“Kami terus menekankan pentingnya imunisasi dasar lengkap bagi anak, khususnya balita,” pungkas Denna, mengingatkan para orang tua agar tidak mengabaikan jadwal imunisasi buah hati mereka demi mencegah fatalitas penyakit.
SUMBER : SUKABUMIKU.ID
[RS]









