foto istimewa
CIEMAS, SukabumiLife.com – Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69 di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terbukti bukan sekadar agenda tahunan masyarakat pesisir biasa. Tradisi yang telah berlangsung selama hampir tujuh dekade ini kini bertransformasi menjadi ruang strategis untuk memperkuat kebudayaan, mendongkrak pariwisata, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus mengampanyekan kelestarian lingkungan laut.
Rangkaian acara Syukuran Nelayan Desa Ciwaru ke-69 Tahun 2026 ini digelar selama lima hari berturut-turut, mulai dari tanggal 15 hingga 19 Juli 2026. Pusat kemeriahan dipusatkan di kawasan Pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.
Sinergi Budaya, Pariwisata, dan UMKM
Puncak kegiatan yang berlangsung pada Jumat (17/7/2026) dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, yang sekaligus membuka secara resmi rangkaian Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69 dan Festival Seni Budaya Tahun 2026.
Sejumlah tokoh penting turut memadati acara ini, di antaranya Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Anggota DPR RI Dewi Asmara, Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi Golkar Ujang Abdurohim Rochmi (Dewan Batman), Anggota DPRD Fraksi PPP Andri Hidayana, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi Ali Iskandar, serta unsur Forkopimda dan Forkopimcam Ciemas.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sukabumi Andreas memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi masyarakat Ciwaru dalam merawat warisan leluhur ini.
“Tradisi Syukuran Nelayan Ciwaru yang telah menginjak ke-69 tahun ini merupakan warisan leluhur yang luar biasa. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial semata, tetapi sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas limpahan rezeki hasil laut, sekaligus momentum untuk merawat tradisi dan melestarikan lingkungan,” ujar Andreas.
Andreas menambahkan bahwa perpaduan antara tradisi masyarakat dan daya tarik wisata pesisir di kawasan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp) ini mampu menciptakan dampak ekonomi yang nyata bagi warga. Ia mengajak semua pihak memanfaatkan festival ini sebagai sarana promosi kearifan lokal, kerajinan, dan produk UMKM khas Sukabumi.
baca juga:Ketegangan AS-Iran Memanas: Serangan ke Negara Teluk Hingga Dampak Ekonomi Global
Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan
Tidak hanya menyuguhkan hiburan dan budaya, perayaan tahun ini juga sarat akan pesan konservasi. Berbagai kegiatan keagamaan, sosial, olahraga, seni budaya, hingga aksi nyata pelestarian lingkungan turut disisipkan. Salah satu agenda yang paling menarik perhatian adalah pelepasan tukik (anak penyu) serta ikan hias kembali ke habitat alaminya.
Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Fraksi Golkar, Ujang Abdurohim Rochmi, menegaskan pentingnya mengintegrasikan agenda kebudayaan dengan kelestarian alam.
“Alhamdulillah kegiatan sudah dimulai sejak 15 Juli 2026 dengan berbagai kegiatan keagamaan, sosial, olahraga, dan seni budaya. Hari ini juga dilaksanakan pelepasan tukik karena penyu merupakan satwa yang dilindungi. Kegiatan seperti ini harus terus dipertahankan sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat daya tarik wisata di kawasan Geopark Ciletuh,” kata Ujang.
Melalui momentum dari Pantai Palangpang ini, masyarakat Ciwaru sukses membuktikan bahwa adat istiadat, geliat ekonomi, pariwisata, dan perlindungan ekosistem laut dapat berjalan beriringan demi kesejahteraan masa depan.
sumber:sukabuminow.com
(nk)









