foto istimewa
SUKABUMILIFE.COM — Kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza kian memprihatinkan. Berdasarkan laporan terbaru yang diterbitkan oleh Danish Refugee Council (DRC) pada Kamis (1/10/2026), sekitar 1,8 juta warga Palestina—atau setara dengan 86 persen dari total populasi—yang tinggal di lokasi pengungsian kini terpaksa menghadapi kondisi hidup yang sangat tidak manusiawi.
Laporan bertajuk Confined by Design: The Human Cost of Protracted Displacement in Gaza tersebut dirilis hampir tiga tahun setelah pecahnya perang pada 7 Oktober 2023, serta berselang hampir setahun pasca-kesepakatan gencatan senjata bertahap yang semestinya mengakhiri konflik pada Oktober 2025.
Kebijakan ‘Garis Kuning’ dan Penyempitan Wilayah Gaza
DRC menuding pemerintah Israel menerapkan kebijakan “pengungsian berkepanjangan” secara sengaja sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai. Salah satu instrumen utamanya adalah penerapan zona terlarang militer yang disebut “Garis Kuning” di wilayah timur Gaza.
Direktur DRC untuk wilayah Palestina yang diduduki, Alan Moseley, mengungkapkan bahwa garis tersebut terus meluas ke arah barat dan menelan lebih banyak wilayah.
“Selain pengungsian berkepanjangan terhadap ratusan ribu orang, ciri utama dari apa yang disebut gencatan senjata adalah Garis Kuning yang terus meluas ke arah barat dan menelan lebih banyak wilayah, secara efektif menyempitkan ruang bagi keluarga menjadi 30 persen dari wilayah Gaza,” ujar Alan Moseley.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam keterangannya bulan lalu menyebutkan bahwa wilayah Gaza yang berada di dalam Garis Kuning bahkan telah mencapai 60 persen, dan berencana untuk terus memperluasnya.
Akibat perluasan zona militer ini, organisasi-organisasi kemanusiaan melaporkan ketidakmampuan mereka beroperasi dalam radius beberapa kilometer dari garis tersebut akibat keterbatasan akses dan faktor keamanan, sehingga pasokan penting gagal mencapai kamp pengungsian terdekat.
Potret Suram Kehidupan di Kamp Pengungsian Darurat
Sebagian besar dari 86 persen penduduk Gaza kini tinggal di tenda-tenda informal dan kamp darurat yang bermunculan di tengah reruntuhan bangunan. DRC bersama Agricultural Development Association (PARC) mencatat serangkaian krisis kemanusiaan yang parah di lokasi-lokasi tersebut, di antaranya:
- Krisis Air & Sanitasi: 80 persen responden melaporkan kekurangan air bersih untuk minum maupun mencuci. Warga juga terpaksa bergantung pada lubang penampungan tinja terbuka yang memicu serangan tikus dan hewan pengerat.
- Kesehatan dan Penyakit Menular: Fasilitas kesehatan sangat minim dan kewalahan karena hanya separuh rumah sakit yang beroperasi. Wabah penyakit menyebar cepat, seperti lebih dari 4.000 kasus cacar air yang tercatat di kamp Khan Younis hanya dalam kurun waktu sebulan.
- Kerawanan Sosial & Keamanan: Minimnya jamban komunal meningkatkan risiko pelecehan berbasis gender, sementara tekanan psikologis memperingatkan potensi peningkatan kekerasan dalam rumah tangga.
- Pendidikan Lumpuh: Layanan pendidikan formal bagi anak muda minim atau bahkan tidak tersedia, yang di beberapa wilayah telah berlangsung selama hampir tiga tahun.
Seruan dan Rekomendasi Internasional
Menanggapi krisis yang kian berlarut-larut ini, DRC dan PARC mendesak komunitas internasional dan pihak-pihak terkait untuk segera mengambil tindakan nyata. Mereka mendesak pemerintah Israel selaku kekuatan pendudukan untuk:
- Menghentikan perluasan lebih lanjut Garis Kuning serta membuka transparansi rute wilayah militer.
- Menghentikan pembangunan infrastruktur militer permanen dan memberikan jaminan kredibel bahwa posisi pasukan saat ini tidak bersifat permanen.
- Mengurangi pembatasan akses bantuan kemanusiaan, terutama terhadap pasokan medis, air, sanitasi, bahan bakar, dan alat pengendali hama.
- Memenuhi komitmen penuh untuk menghentikan permusuhan serta melindungi warga sipil, tenaga medis, dan pekerja kemanusiaan.
Laporan ini juga memberikan catatan kritis bahwa perhatian politik serta aliran dana dari para donor terhadap situasi di Gaza telah menurun drastis dalam setahun terakhir, meskipun kondisi riil di lapangan sama sekali belum membaik.
sumber:detiknews
(AAP)









