foto istimewa
SUKABUMI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan penting terkait kondisi iklim nasional tahun 2026. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa fenomena El Niño berpotensi membuat musim kemarau tahun ini menjadi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir.
Peringatan ini disampaikan Faisal dalam Seminar Nasional Lemhannas RI di Jakarta, Kamis (2/7/2026). Ia menekankan bahwa wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Pulau Jawa dan daerah pesisir, menjadi area yang paling rentan terdampak risiko kekeringan.
Dampak bagi Sektor Pertanian
Bagi wilayah Sukabumi yang memiliki basis sektor pertanian yang kuat, prediksi ini menjadi sinyal untuk melakukan adaptasi lebih awal. Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan akan terjadi pada periode Agustus hingga September 2026.
“Musim kemarau yang terjadi bersamaan dengan fenomena El Niño ini berisiko menurunkan curah hujan secara signifikan. Hal ini menuntut adanya sistem adaptasi dan mitigasi berbasis sains di sektor pertanian agar ketersediaan pangan tetap terjaga,” ujar Faisal.
Peluang di Tengah Musim Kering
Meski membawa tantangan berupa risiko gagal panen, BMKG menyebut bahwa musim kemarau juga bisa menjadi peluang jika dikelola dengan tepat. Kondisi cuaca kering sebenarnya sangat mendukung untuk:
- Meningkatkan produktivitas garam nasional.
- Mempercepat proses pengeringan hasil pascapanen.
- Pengembangan tanaman palawija dan sorgum yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Peran BMKG dalam Kemandirian Pangan
Faisal menambahkan bahwa BMKG terus berkomitmen mendukung petani melalui berbagai layanan, seperti Sekolah Lapang Iklim (SLI). Program ini bertujuan memberikan pendampingan bagi petani agar lebih memahami pola tanam yang sesuai dengan kondisi cuaca terkini.
Selain itu, BMKG juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai instrumen untuk menjaga ketersediaan air. Operasi ini ditujukan untuk membantu pengisian waduk, bendungan, dan embung agar cadangan air tetap tersedia untuk kebutuhan irigasi pertanian saat puncak kemarau melanda.
baca juga:Videonya Viral, Polisi Berhasil Amankan Pemotor Ugal-ugalan di Cicurug Sukabumi
Pesan untuk Masyarakat Sukabumi
Mengingat Sukabumi memiliki variasi topografi dari pegunungan hingga pesisir, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam penggunaan air dan memantau informasi cuaca resmi dari kanal-kanal BMKG.
“Kita harus membuat sistem yang lebih siap dengan kondisi iklim yang dinamis. Informasi iklim adalah fondasi penting dalam menentukan kesesuaian lahan dan kalender tanam agar petani tidak merugi,” tutup Faisal.
Bagi warga Sukabumi yang bergerak di bidang pertanian, pastikan untuk selalu memantau perkembangan cuaca terkini melalui aplikasi InfoBMKG agar dapat menyusun strategi tanam yang tepat di tengah tantangan iklim tahun ini.
sumber:BMKG
(AGS)









