Dari 25 Provinsi ke Sukabumi, 2.034 Mahasiswa Baru Mulai Perjalanan di UMMI

foto istimewa

SUKABUMI — Dari Aceh hingga Papua, mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) datang ke Sukabumi membawa latar belakang daerah dan budaya yang beragam. Sebanyak 2.034 mahasiswa baru dari 25 provinsi di Indonesia resmi memulai perjalanan pendidikan tingginya di UMMI melalui Masa Ta’aruf dan Keakraban (MASTAKA) 2026, Senin (14/09/2026).

Kehadiran mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia menjadi gambaran semakin luasnya daya jangkau UMMI sebagai perguruan tinggi yang berada di Kota Sukabumi. Mereka berasal dari:

  • Jawa & Bali: Jawa Barat, Banten, D.K.I. Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
  • Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung.
  • Nusa Tenggara: Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
  • Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
  • Sulawesi: Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
  • Indonesia Timur: Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Bagi UMMI, keberagaman tersebut bukan sekadar angka penerimaan mahasiswa baru. Perbedaan daerah, budaya, dan latar belakang justru menjadi bagian dari pengalaman pendidikan yang ingin dibangun di lingkungan kampus.

“Saudara datang dari berbagai daerah, budaya, dan latar belakang yang beragam. Namun, hari ini kita dipertemukan dalam satu almamater, yaitu Universitas Muhammadiyah Sukabumi,” ujar Rektor UMMI Prof. Dr. Reny Sukmawani, M.P. dalam sambutannya.

MASTAKA 2026 mengangkat tema “Mencetak Generasi Unggul, Berprestasi dan Berdampak”. Tema tersebut menjadi penegasan arah pendidikan UMMI yang tidak hanya mengejar keunggulan akademik, tetapi juga membangun karakter dan mendorong mahasiswa agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca juga:VIRAL PRIA MISTERIUS MEMATUNG BERJAM-JAM DI SUKABUMI

Dari Sukabumi untuk Indonesia

Sebagai perguruan tinggi yang tumbuh di Sukabumi, keberadaan mahasiswa dari 25 provinsi memberikan gambaran bahwa ruang belajar UMMI kini mempertemukan generasi muda dari berbagai wilayah Indonesia.

Rektor UMMI mengatakan mahasiswa baru harus melihat kampus bukan sekadar tempat memperoleh gelar. Perguruan tinggi merupakan ruang untuk mengembangkan ilmu, membangun jejaring, mengasah kepemimpinan, dan mempersiapkan diri agar mampu mengambil peran di tengah masyarakat.

  • “Jadilah ahli di bidang masing-masing. Apa pun program studinya, jadilah yang terbaik di bidangnya dan gunakan ilmu tersebut untuk kemaslahatan,” pesannya.

UMMI juga menempatkan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai bagian dari pembentukan mahasiswa. Pendidikan tidak hanya diarahkan agar mahasiswa memiliki kompetensi, tetapi juga memiliki akhlak, integritas, dan tanggung jawab dalam menggunakan ilmu.

Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, mahasiswa juga didorong untuk menjadi pembelajar yang mandiri dan kritis. Teknologi, menurut Reny, harus dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, bukan menggantikan kemampuan mahasiswa dalam berpikir.

“Manfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan sebagai sarana untuk mendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir,” katanya.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi generasi mahasiswa baru yang memasuki dunia pendidikan tinggi di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat. UMMI ingin mahasiswa memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan nilai dan prinsip.

Kampus Inklusif yang Merangkul Keberagaman

Jangkauan UMMI yang meluas juga berjalan beriringan dengan komitmen kampus terhadap inklusivitas. Dari 2.034 mahasiswa baru tahun 2026, terdapat 35 mahasiswa nonmuslim atau sekitar 1,72 persen.

Rektor UMMI menyebut bahwa UMMI sebagai kampus inklusif yang memberikan ruang pendidikan bagi berbagai golongan.

  • “Hal ini menunjukkan bahwa Universitas Muhammadiyah Sukabumi dipercaya oleh semua golongan. Kami percaya bahwa pendidikan tinggi adalah hak segala bangsa. Karena itu UMMI menyiapkan ruang belajar yang adil tanpa membeda-bedakan,” ujarnya.

Bagi UMMI, keberagaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran sosial. Mahasiswa tidak hanya belajar dari dosen dan buku, tetapi juga belajar memahami perbedaan melalui interaksi dengan sesama mahasiswa yang memiliki latar belakang berbeda.

Bagaimana pandangan Anda mengenai peran perguruan tinggi daerah dalam merangkul keberagaman mahasiswa dari seluruh Indonesia seperti yang dilakukan UMMI ini?

Sumber: Radarsukabumi

(LS)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *