FOTO ISTIMEWA
SUKABUMILIFE.COM – Di tengah keterbatasan dan jarak yang jauh dari akses perkotaan, kreativitas sering kali lahir sebagai solusi. Hal inilah yang dibuktikan oleh Abah Sarnuh (80), seorang petani sepuh di Kampung Pasirdatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi.
Selama hampir dua dekade, Abah Sarnuh berhasil menikmati aliran listrik secara gratis di rumahnya. Bukan dari jaringan konvensional, melainkan dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mini berbekal kincir air sederhana yang ia rakit sendiri.
Berawal dari Mahalnya Biaya Kabel PLN
Ide nekat Abah Sarnuh ini muncul pada tahun 2007 silam. Kala itu, wilayah tempat tinggalnya sebenarnya sudah terjangkau oleh jaringan PLN. Namun, karena lokasi rumahnya yang cukup terpencil, ia diwajibkan menyediakan kabel sendiri sepanjang 3.200 meter (32 rol) di luar biaya pemasangan sebesar Rp600 ribu.
Enggan merogoh kocek terlalu dalam untuk membeli ribuan meter kabel, pria yang belajar secara otodidak ini memutar otak. Ia teringat pernah melihat sistem dinamo yang memanfaatkan aliran air.
“Dari situ saya pikir mending beli dinamo saja. Terus saya coba bikin sendiri, berangkat ke Kota Sukabumi beli dinamo buat bikin kincir air, ternyata berhasil,” kenang Abah Sarnuh.
Modal Rp3,2 Juta, Pernah Terangi 10 Rumah Warga
Untuk mewujudkan PLTA mandiri tersebut, Abah Sarnuh mengeluarkan modal awal sekitar Rp3,2 juta. Uang tersebut ia gunakan untuk membeli dinamo, kabel, serta kayu sebagai material utama pembuatan kincir air.
Hebatnya, saat pertama kali beroperasi, daya listrik yang dihasilkan dari gemericik air di belakang rumahnya itu terbilang besar.
- Mampu menyalakan hingga 70 titik lampu.
- Mampu menerangi 10 rumah warga di sekitar rumahnya.
- Sanggup menghidupkan hingga 3 unit televisi sekaligus.
Mantan Pembuka Lahan di “Sarang Harimau”
Keberanian Abah Sarnuh tidak hanya terlihat dari kreativitasnya membuat kincir listrik. Di masa mudanya, ia adalah sosok yang nekat demi menghidupi keluarga.
Pria asli Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit ini memutuskan merantau ke kawasan Pasirdatar pada tahun 1998 karena tidak memiliki lahan garapan di kampung halaman. Saat itu, lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang kini ia garap dikenal angker dan dihindari masyarakat setempat.
“Dulu lokasi ini nggak ada yang mau garap, katanya di sini itu gudang maung (sarang harimau) jadi pada takut. Akhirnya saya nekat saja memberanikan diri dari pada nganggur di kampung,” ungkapnya.
Dinamo Mulai Menua
Kini, setelah hampir 20 tahun berputar tanpa lelah, kincir air buatan Abah Sarnuh mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Aliran listrik yang dihasilkan tidak sestabil dulu, ditandai dengan lampu rumahnya yang mulai sering berkedip-kedip.
“Sekarang kendalanya dinamonya sudah tua, kalau nyala itu kedip-kedip. Mungkin harus dibongkar dan diganti sama yang lebih bagus,” tuturnya.
Meski fungsi dinamonya mulai menurun seiring usianya yang kian senja, kisah Abah Sarnuh tetap menjadi tamparan positif sekaligus inspirasi nyata. Keterbatasan ekonomi dan geografis terbukti bukan penghalang bagi seorang petani tua untuk berinovasi dan bersahabat dengan alam sekitar. (SL/Red)
SUKABUMI, sukabumilife.com – Di tengah keterbatasan dan jarak yang jauh dari akses perkotaan, kreativitas sering kali lahir sebagai solusi. Hal inilah yang dibuktikan oleh Abah Sarnuh (80), seorang petani sepuh di Kampung Pasirdatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi.
Selama hampir dua dekade, Abah Sarnuh berhasil menikmati aliran listrik secara gratis di rumahnya. Bukan dari jaringan konvensional, melainkan dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mini berbekal kincir air sederhana yang ia rakit sendiri.
Berawal dari Mahalnya Biaya Kabel PLN
Ide nekat Abah Sarnuh ini muncul pada tahun 2007 silam. Kala itu, wilayah tempat tinggalnya sebenarnya sudah terjangkau oleh jaringan PLN. Namun, karena lokasi rumahnya yang cukup terpencil, ia diwajibkan menyediakan kabel sendiri sepanjang 3.200 meter (32 rol) di luar biaya pemasangan sebesar Rp600 ribu.
Enggan merogoh kocek terlalu dalam untuk membeli ribuan meter kabel, pria yang belajar secara otodidak ini memutar otak. Ia teringat pernah melihat sistem dinamo yang memanfaatkan aliran air.
“Dari situ saya pikir mending beli dinamo saja. Terus saya coba bikin sendiri, berangkat ke Kota Sukabumi beli dinamo buat bikin kincir air, ternyata berhasil,” kenang Abah Sarnuh.
Modal Rp3,2 Juta, Pernah Terangi 10 Rumah Warga
Untuk mewujudkan PLTA mandiri tersebut, Abah Sarnuh mengeluarkan modal awal sekitar Rp3,2 juta. Uang tersebut ia gunakan untuk membeli dinamo, kabel, serta kayu sebagai material utama pembuatan kincir air.
Hebatnya, saat pertama kali beroperasi, daya listrik yang dihasilkan dari gemericik air di belakang rumahnya itu terbilang besar.
- Mampu menyalakan hingga 70 titik lampu.
- Mampu menerangi 10 rumah warga di sekitar rumahnya.
- Sanggup menghidupkan hingga 3 unit televisi sekaligus.
Mantan Pembuka Lahan di “Sarang Harimau”
Keberanian Abah Sarnuh tidak hanya terlihat dari kreativitasnya membuat kincir listrik. Di masa mudanya, ia adalah sosok yang nekat demi menghidupi keluarga.
Pria asli Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit ini memutuskan merantau ke kawasan Pasirdatar pada tahun 1998 karena tidak memiliki lahan garapan di kampung halaman. Saat itu, lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang kini ia garap dikenal angker dan dihindari masyarakat setempat.
“Dulu lokasi ini nggak ada yang mau garap, katanya di sini itu gudang maung (sarang harimau) jadi pada takut. Akhirnya saya nekat saja memberanikan diri dari pada nganggur di kampung,” ungkapnya.
Dinamo Mulai Menua
Kini, setelah hampir 20 tahun berputar tanpa lelah, kincir air buatan Abah Sarnuh mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Aliran listrik yang dihasilkan tidak sestabil dulu, ditandai dengan lampu rumahnya yang mulai sering berkedip-kedip.
“Sekarang kendalanya dinamonya sudah tua, kalau nyala itu kedip-kedip. Mungkin harus dibongkar dan diganti sama yang lebih bagus,” tuturnya.
Meski fungsi dinamonya mulai menurun seiring usianya yang kian senja, kisah Abah Sarnuh tetap menjadi tamparan positif sekaligus inspirasi nyata. Keterbatasan ekonomi dan geografis terbukti bukan penghalang bagi seorang petani tua untuk berinovasi dan bersahabat dengan alam sekitar. (SL/Red)
Berikut adalah draf artikel berita yang ditulis dengan gaya khas media online, siap untuk diterbitkan di sukabumilife.com:
Kisah Inspiratif Abah Sarnuh: Petani 80 Tahun di Caringin Sukabumi yang Nikmati Listrik Gratis dari Kincir Air Buatan Sendiri
SUKABUMI, sukabumilife.com – Di tengah keterbatasan dan jarak yang jauh dari akses perkotaan, kreativitas sering kali lahir sebagai solusi. Hal inilah yang dibuktikan oleh Abah Sarnuh (80), seorang petani sepuh di Kampung Pasirdatar, Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi.
Selama hampir dua dekade, Abah Sarnuh berhasil menikmati aliran listrik secara gratis di rumahnya. Bukan dari jaringan konvensional, melainkan dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mini berbekal kincir air sederhana yang ia rakit sendiri.
Berawal dari Mahalnya Biaya Kabel PLN
Ide nekat Abah Sarnuh ini muncul pada tahun 2007 silam. Kala itu, wilayah tempat tinggalnya sebenarnya sudah terjangkau oleh jaringan PLN. Namun, karena lokasi rumahnya yang cukup terpencil, ia diwajibkan menyediakan kabel sendiri sepanjang 3.200 meter (32 rol) di luar biaya pemasangan sebesar Rp600 ribu.
Enggan merogoh kocek terlalu dalam untuk membeli ribuan meter kabel, pria yang belajar secara otodidak ini memutar otak. Ia teringat pernah melihat sistem dinamo yang memanfaatkan aliran air.
“Dari situ saya pikir mending beli dinamo saja. Terus saya coba bikin sendiri, berangkat ke Kota Sukabumi beli dinamo buat bikin kincir air, ternyata berhasil,” kenang Abah Sarnuh.
Modal Rp3,2 Juta, Pernah Terangi 10 Rumah Warga
Untuk mewujudkan PLTA mandiri tersebut, Abah Sarnuh mengeluarkan modal awal sekitar Rp3,2 juta. Uang tersebut ia gunakan untuk membeli dinamo, kabel, serta kayu sebagai material utama pembuatan kincir air.
Hebatnya, saat pertama kali beroperasi, daya listrik yang dihasilkan dari gemericik air di belakang rumahnya itu terbilang besar.
- Mampu menyalakan hingga 70 titik lampu.
- Mampu menerangi 10 rumah warga di sekitar rumahnya.
- Sanggup menghidupkan hingga 3 unit televisi sekaligus.
BACA SAJA : Heboh! Penemuan Buaya di Situ Habibi Surade Viral di Media Sosial
Mantan Pembuka Lahan di “Sarang Harimau”
Keberanian Abah Sarnuh tidak hanya terlihat dari kreativitasnya membuat kincir listrik. Di masa mudanya, ia adalah sosok yang nekat demi menghidupi keluarga.
Pria asli Desa Cikahuripan, Kecamatan Kadudampit ini memutuskan merantau ke kawasan Pasirdatar pada tahun 1998 karena tidak memiliki lahan garapan di kampung halaman. Saat itu, lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang kini ia garap dikenal angker dan dihindari masyarakat setempat.
“Dulu lokasi ini nggak ada yang mau garap, katanya di sini itu gudang maung (sarang harimau) jadi pada takut. Akhirnya saya nekat saja memberanikan diri dari pada nganggur di kampung,” ungkapnya.
Dinamo Mulai Menua
Kini, setelah hampir 20 tahun berputar tanpa lelah, kincir air buatan Abah Sarnuh mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Aliran listrik yang dihasilkan tidak sestabil dulu, ditandai dengan lampu rumahnya yang mulai sering berkedip-kedip.
“Sekarang kendalanya dinamonya sudah tua, kalau nyala itu kedip-kedip. Mungkin harus dibongkar dan diganti sama yang lebih bagus,” tuturnya.
Meski fungsi dinamonya mulai menurun seiring usianya yang kian senja, kisah Abah Sarnuh tetap menjadi tamparan positif sekaligus inspirasi nyata. Keterbatasan ekonomi dan geografis terbukti bukan penghalang bagi seorang petani tua untuk berinovasi dan bersahabat dengan alam sekitar. (SL/Red)
SUMBER : SUKABUMIKU.ID
(NL)









