Mengenal Wayang Landung Sangkala, Warisan Kreatif dari Tanah Galuh

Gambar istimewa

Setiap daerah memiliki seni dan budaya khas sebagai identitas yang membedakannya dari wilayah lain. Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menjadi salah satu daerah yang kaya akan ragam budaya unik. Salah satu yang paling mencuri perhatian masyarakat dalam ajang Galuh Ethnic Carnival (GEC) 2026 baru-baru ini adalah kehadiran sosok wayang raksasa yang dikenal sebagai Wayang Landung Sangkala.

Wayang berukuran jumbo ini sukses memikat perhatian para pengunjung festival. Banyak warga yang antusias mengabadikan momen langka tersebut menggunakan kamera ponsel mereka. Menariknya, meski berukuran raksasa, karakter yang ditampilkan tetap mengadopsi tokoh-tokoh ikonik Wayang Golek Sunda, mulai dari si jenaka Cepot (Astrajingga) hingga sang ksatria Arjuna.

Sejarah Lahirnya Wayang Landung Sangkala

Seni helaran kreasi baru ini digagas oleh Pandu Radea, seorang seniman sekaligus sejarawan asal Kawali yang kini menetap di Panjalu, Ciamis. Kesenian ini pertama kali lahir dan diperkenalkan kepada publik pada tahun 2007 silam.

Saat itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Ciamis menunjuk Pandu untuk menyiapkan konsep pertunjukan guna mewakili daerah dalam ajang Parade Budaya Nusantara di Jembrana, Bali.

“Berangkat dari pengalaman itu, saya mengembangkan seni helaran yang mengadopsi unsur wayang golek dan menamainya Wayang Landung. Sebagai ciri khas, digunakan atribut daun kararas (daun pisang kering) yang terinspirasi dari Barong Brutuk Bali,” ujar Pandu Radea.

Untuk mewujudkan kesenian tersebut, Pandu bersama rekan seniman, Eman Sastrapradja, membentuk Komunitas Sangkala. Komunitas ini menjadi wadah kolaborasi lintas genre bagi para seniman tradisional maupun modern di Ciamis. Berawal dari sukses besar di Bali dengan membawakan lakon Sabhaparwa, Wayang Landung kemudian melanglang buana meraih berbagai penghargaan nasional hingga mengantar Pandu menjadi duta budaya ke Spanyol (2009), Prancis (2010), dan Korea Selatan (2011).

Baca juga :Gelar Aksi dan Istigosah, Ini Sejumlah Tuntutan Aliansi Masyarakat Peduli MBG Sukabumi

Struktur Pertunjukan: Filosofi Perjalanan Hidup

Pertunjukan Wayang Landung Sangkala tidak sekadar menyajikan hiburan visual, melainkan memiliki struktur pementasan yang sarat akan makna filosofis. Ada 5 tahapan utama dalam pertunjukan ini:

TahapanNama SegmenMakna & Aktivitas
1NgawalanTahap persiapan spiritual, perakitan wayang, dan musyawarah konsep. Menyimbolkan proses kelahiran atau awal kehidupan.
2LalampahanInti helaran berupa arak-arakan di jalan. Pemain memanggul wayang berbobot hingga 30 kg mengikuti arahan dalang. Melambangkan perjalanan manusia mencari jati diri.
3MagelaranPementasan cerita (Mahabharata/Ramayana) yang diakhiri pertempuran. Melambangkan dinamika hidup manusia dalam membedakan baik dan buruk.
4JogolanAtraksi interaktif berupa duel antarpemain (atau penonton) menggunakan gada aman bersistem gugur. Menyimbolkan perjuangan hidup.
5NgampihanProses merapikan dan menyimpan kembali wayang setelah selesai acara, sekaligus melakukan evaluasi pementasan.

Dalam eksekusinya, pertunjukan ini dikomandoi oleh seorang Dalang yang dibantu oleh dua Catrik (asisten). Dalang memegang peran sentral mengendalikan alur musik dan gerakan pemain lewat kode gunungan—tongkat berhias daun kering dan lonceng kecil.

Inovasi Baru di Galuh Ethnic Carnival 2026

Nostalgia sekaligus inovasi segar dibawa oleh Komunitas Sangkala pada ajang GEC 2026. Versi terbaru Wayang Landung ini dirancang jauh lebih ringan dan dinamis. Jika dulu hanya sekadar diarak, kini bagian kepala wayang dapat menoleh, menengadah, bahkan membuka mulut menyerupai wayang golek asli.

“Saya ingin Wayang Landung dapat mementaskan lakon-lakon wayang secara utuh, tidak sekadar seni helaran saja yang bersifat momentopname (sesaat), namun menjadi seni pertunjukan yang dipanggungkan,” jelas Pandu.

Dalam penampilannya di GEC 2026, mereka membawakan lakon Tundung Kala—kisah penyelamatan Dewi Subadra dari penculikan Kalajingga oleh Arjuna, Gatotkaca, dan Astrajingga yang dikemas secara jenaka namun heroik.

Libatkan Mahasiswa untuk Regenerasi

Produksi kreatif ini digarap secara gotong royong oleh Pandu Radea bersama tim artistik yang diperkuat oleh seniman lokal serta Sanggar Kalimusada. Menariknya, dari 6 pemain utama yang memanggul wayang, 4 di antaranya merupakan mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Siliwangi (Unsil).

Keterlibatan generasi muda ini sengaja diinisiasi oleh Komunitas Sangkala sebagai langkah nyata regenerasi dan memberikan pengalaman berkesenian langsung kepada mahasiswa agar warisan kreatif dari Tanah Galuh ini tidak punah ditelan zaman.

Sumber : detikjabar

(NK)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *