foto istimewa
SUKABUMI, SukabumiLife.com – Kasus pembuangan sampah ilegal menggunakan mobil pikap secara penuh di kawasan Jembatan Cidahon baru-baru ini sempat viral dan memicu kemarahan warganet. Namun, jika aksi nekat itu terjadi di bawah kegelapan malam, pemandangan di siang hari di lokasi yang sama ternyata menyajikan pemandangan yang tak kalah miris.
Berdasarkan pantauan di lapangan, gunungan sampah plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga tampak menumpuk tinggi. Tak main-main, volume sampah bahkan sampai meluber ke bahu jalan raya kawasan Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.
Tumpukan sampah yang memanjang tersebut berada tepat di samping sebuah bangunan kecil bercat hijau-kuning, posisinya sangat dekat dengan area Jembatan Cidahon. Karena memakan sebagian ruang di tepi jalan, jalur wisata utama menuju Pantai Citepus ini pun terlihat kumuh.
Padahal, lalu lintas kendaraan roda dua maupun roda empat di lajur dua arah tersebut terbilang padat. Keberadaan sampah yang berserakan di tanah terbuka di luar bak penampungan resmi ini dinilai sangat kontras dengan potensi wisata kawasan sekitar.
baca juga:Viral Gunungan Sampah Medis di Got Palabuhanratu, Rekaman CCTV Bongkar Fakta Mengejutkan!
Jadi Keluhan Menahun Warga
Kondisi carut-marut di lokasi ini rupanya bukan hal baru bagi masyarakat setempat. Pihak pengelola media sosial My Palabuhanratu, Nurlela, membeberkan bahwa dirinya kerap dibanjiri keluhan oleh warga terkait kondisi penumpukan sampah di tempat tersebut yang seolah tidak pernah selesai.
“Sering terima laporan dari masyarakat, sampah di TPS Cidahon Citepus selalu numpuk, panjang sampai ke jembatan, seolah gak pernah diangkut,” ujar Nurlela, Minggu (19/7/2026).
Keluh Kesah Pemdes Citepus dan Perilaku ‘Buang Sambil Jalan’
Melihat fakta di lapangan, ternyata ada alasan tersendiri mengapa volume sampah di tepi jalan tersebut bisa meluber sedemikian rupa. Kepala Desa Citepus, Koswara, menjelaskan latar belakang sejarah pemindahan tempat pembuangan tersebut.
Awalnya, tempat pembuangan sampah berada di dekat kawasan waterpark. Namun, karena adanya desakan dari warga yang merasa terganggu akibat sampah berserakan hingga menutup gang di area vital pariwisata, lokasi tersebut akhirnya ditutup.
“Nah, sehingga waktu itu kami dengan Dinas Pariwisata memindahkan, kan dulu itu emang sudah ada di Cidahon itu. Nah, dipindahkanlah jadi ditambahkan baknya,” jelas Koswara.
Meski fasilitas bak penampungan sudah ditambah, Koswara sangat menyayangkan sikap sebagian oknum warga dan pengendara yang abai. Faktor perilaku manusia inilah yang membuat sampah tetap berserakan di tanah terbuka.
“Sebenarnya itu ada baknya, cuman karena warga masyarakat tidak mengindahkan, jadi membuangnya itu sambil jalan di motor, langsung buang gitu. Jadi tidak masuk ke dalam baknya itu, padahal baknya ada,” pungkas Koswara menjabarkan dilema tata kelola di lokasi tersebut.
Hingga saat ini, persoalan sampah di jalur wisata Citepus masih menjadi PR besar yang membutuhkan kesadaran bersama, baik dari ketegasan pengawasan maupun kedisiplinan warga dalam membuang sampah pada tempatnya.
sumber:detikjabar
(AAP)









