Hari Lahir Pancasila: Menemukan Kembali Kompas Bangsa di Tengah Riuhnya Kebisingan Politik

foto istimewa

SUKABUMI, SukabumiLife.com – Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati momentum historis lahirnya Pancasila sebagai fondasi filosofis negara. Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan titik temu dari keragaman gagasan, keyakinan, budaya, dan kepentingan yang hidup di tengah masyarakat, termasuk bagi kita di Sukabumi.

Namun, 79 tahun setelah pidato legendaris Bung Karno di hadapan sidang BPUPKI, bangsa ini dihadapkan pada tantangan baru. Ruang publik hari ini kian dipenuhi oleh “kebisingan politik” yang sering kali mengaburkan substansi persoalan nyata yang dihadapi rakyat.

Pertarungan narasi yang tiada henti di media sosial, kecenderungan elite yang sibuk membangun citra, serta budaya politik yang mengedepankan sensasi ketimbang argumentasi, membuat energi kolektif bangsa terserap dalam perdebatan yang melelahkan.

Ketika Politik Kehilangan Kompas Moral

Demokrasi pada hakikatnya adalah sistem nilai yang bertumpu pada etika, tanggung jawab, dan orientasi pada kepentingan umum. Sayangnya, fenomena pragmatisme politik belakangan ini kerap mempersempit makna politik sekadar menjadi perhitungan elektoral dan perebutan kekuasaan.

Dalam situasi seperti ini, Pancasila hadir menawarkan koreksi yang sangat mendasar:

  • Sila Pertama: Mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan kesadaran moral di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Sila Kedua & Ketiga: Menegaskan bahwa politik harus menjunjung tinggi martabat manusia dan menjaga persatuan. Perbedaan pilihan politik tidak boleh merusak kohesi sosial atau berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan.
  • Sila Keempat & Kelima: Menegaskan bahwa tujuan akhir dari seluruh proses politik adalah menghadirkan kebijaksanaan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Tantangan Riil Bangsa: Dari Ketahanan Pangan hingga Perubahan Iklim

Di tengah hiruk-pikuk politik sehari-hari, isu-isu strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak sering kali tenggelam. Padahal, tantangan nyata yang ada di depan mata jauh lebih kompleks, seperti:

  1. Ketahanan Pangan: Rivalitas geopolitik global menuntut Indonesia memperkuat kemandirian pangan. Di sinilah sila kelima menemukan relevansinya, di mana petani, nelayan, dan masyarakat pedesaan harus mendapat perlindungan agar mampu menjadi tulang punggung bangsa.
  2. Krisis Iklim: Bencana ekologis seperti banjir, longsor, dan kekeringan mengancam keberlanjutan masa depan. Pembangunan harus diselaraskan dengan keseimbangan alam.
  3. Transformasi Digital: Melimpahnya informasi di era digital membawa tantangan besar berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi yang dapat mengancam persatuan.

baca juga:Hadapi Perubahan Zaman, Bank Jakarta Fokus Optimalkan Keamanan Siber dalam Strategi Bisnis

Menjadikan Pancasila Sebagai Pedoman Aksi, Bukan Slogan

Persoalan terbesar bangsa saat ini bukanlah kurangnya pemahaman tentang Pancasila, melainkan bagaimana menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata. Pancasila tidak akan memiliki makna jika hanya berhenti sebagai hafalan atau slogan di baliho-baliho.

“Ukuran keberhasilan Pancasila bukan terletak pada seberapa sering ia disebut, melainkan seberapa jauh ia diwujudkan dalam kebijakan publik, anggaran negara, penegakan hukum, dan pelayanan yang adil bagi masyarakat.”

Bagi para pemimpin dan politisi, mengamalkan Pancasila berarti menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Bagi masyarakat luas, termasuk Wargi Sukabumi, artinya adalah menjaga persaudaraan di tengah perbedaan dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah.

Menyalakan Kembali Kompas Kebangsaan

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini harus menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Di tengah kebisingan politik yang kerap memecah perhatian, sudah saatnya kita kembali mendengarkan suara kebijaksanaan yang terkandung dalam Pancasila.

Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak teladan dan kerja nyata, bukan sekadar retorika. Semoga dengan menjadikan Pancasila sebagai kompas tindakan, kebisingan politik yang destruktif dapat berubah menjadi dialog kebangsaan yang produktif demi membawa Indonesia menuju bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

sumber:detiknews

(AAP)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *