Foto istimewa
Sukabumilife.com — Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Pulau Kalimantan kembali mencapai titik kritis pada Agustus 2026. Berdasarkan data pemantauan satelit NOAA-20 hingga 20 Agustus 2026, terdeteksi sebanyak 1.487 titik panas (hotspot) yang terkonsentrasi di wilayah ekosistem gambut Kalimantan Tengah (767 titik) dan Kalimantan Barat (560 titik).
Kondisi ini diperparah oleh fenomena iklim El Nino kuat yang diperkirakan BMKG masih memicu kekeringan ekstrem. Sepanjang Januari hingga Juni 2026 saja, luas indikatif Karhutla di Indonesia telah menembus 107.465 hektare, melonjak drastis hingga 366 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
baca juga:Videonya Viral, Polisi Berhasil Amankan Pemotor Ugal-ugalan di Cicurug Sukabumi
Ancam Hubungan Diplomatik Kawasan
Krisis ekologis ini kini menjelma menjadi isu geopolitik kawasan yang krusial. Pergerakan kabut / sebaran asap dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dilaporkan telah menyeberang ke wilayah Sarawak, Malaysia, hingga menurunkan kualitas udara di negara tetangga tersebut ke kategori tidak sehat.
Posisi strategis Kalimantan sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat fenomena asap lintas batas (transboundary haze) ini berpotensi memicu ketegangan diplomatik di tingkat Asia Tenggara, terutama jika koordinasi penanganan di dalam negeri dinilai lambat.
Sorotan pada Tata Kelola Lahan dan Koordinasi
Analis menilai maraknya Karhutla bukan sekadar masalah cuaca kering semata, melainkan buah dari kerentanan tata kelola ruang, pengawasan izin industri perkebunan/pertambangan, serta pengelolaan kawasan gambut.
Di sisi lain, mekanisme penanganan di dalam negeri juga menuai kritik. Jalur koordinasi antar-lembaga yang dinilai terlalu rumit serta keterbatasan armada pemadaman darat dan udara menjadi tantangan berat bagi Manggala Agni dan personel gabungan dalam mengendalikan sebaran api di lapangan.
sumber:KOMPAS.com
(NT)









