Kisah Inspiratif Umi Ayoy: Kreator TikTok Asal Cikakak Sukabumi yang Ubah Nasib Lewat Live Streaming

Foto istimewa

SUKABUMILIFE.COM — Di balik layar siaran langsung yang kini disaksikan oleh ribuan pengikut di TikTok, tersimpan perjalanan hidup penuh perjuangan dari seorang pemuda asal Kampung Ciputat, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.

Muhamad Nana Abdilah, atau yang lebih dikenal dengan nama Umi Ayoy, berhasil membuktikan bahwa kerja keras, konsistensi, dan ketabahan mampu mengubah jalan hidup seseorang dari seorang pekerja serabutan menjadi kreator konten yang sukses.

Baca juga: Inspirasi: Kisah Sukses Suwarno, Mantan Cleaning Service yang Kini Miliki Ratusan Karyawan di Bisnis Online

Dari Qari Berprestasi Hingga Pekerja Serabutan

Lahir pada April 2001, Umi Ayoy tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Sejak remaja, ia terbiasa berjuang mencari nafkah demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Meski hidup serba terbatas, bakatnya sudah terlihat sejak kecil. Saat duduk di bangku SMP, Umi Ayoy berhasil meraih Juara I Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Sukabumi dan mewakili daerahnya hingga tingkat Provinsi Jawa Barat dengan menempati peringkat keenam. Kemampuan membaca Al-Qur’an tersebut membuatnya kerap diundang menjadi qari dalam berbagai acara keagamaan seperti pernikahan dan khitanan.

Namun, tuntutan hidup membawanya menjalani berbagai profesi yang jauh berbeda. Demi bertahan hidup, ia pernah mencicipi puluhan jenis pekerjaan.

“Hampir semua pekerjaan pernah saya ambil. Kalau dihitung mungkin ada sekitar 20 pekerjaan yang berbeda-beda,” ujar Umi Ayoy.

Sederet pekerjaan yang pernah dilakoninya antara lain:

  • Berdagang dan mengamen di kawasan Sukasari, Bogor.
  • Asisten rumah tangga (ART).
  • Pembuat paving block dan batako.
  • Pekerja pencucian mobil dan rumah makan ayam geprek.
  • Perawat bunga anggrek hingga pegawai di sebuah bar di Bali.

Cobaan Patah Kaki dan Titik Balik di TikTok

Saat bekerja di Bali dan mulai menemukan penghasilan tetap, cobaan berat menghampirinya. Umi Ayoy mengalami kecelakaan parah yang menyebabkan kakinya patah hingga tak mampu berjalan normal selama enam bulan.

“Saya pernah patah kaki dan sempat enam bulan kehilangan harapan karena tidak bisa jalan,” kenangnya.

Meski sempat terpuruk, ia menolak untuk menyerah. Setelah pulih, ia kembali bekerja hingga akhirnya memutuskan pulang ke Sukabumi pada akhir April 2025 untuk memulai babak baru: fokus melakukan siaran langsung (live streaming) di TikTok.

Awalnya, hasil yang didapat belum seberapa. Namun berkat konsistensi menyapa penonton setiap hari, usahanya mulai membuahkan hasil manis hanya dalam waktu dua bulan.

“Mulai April saya fokus live TikTok. Pendapatan mulai terasa di Juni dan Juli. Seumur hidup baru merasakan penghasilan sekitar Rp17 juta dalam satu bulan,” ungkapnya.

Tetap Rendah Hati dan Membangun Majelis Agama

Kini kehidupan ekonomi Umi Ayoy telah jauh lebih baik. Selain aktif sebagai kreator konten, ia juga mulai mengembangkan usaha kuliner tahu walik sebagai sumber penghasilan tambahan.

Tak lupa pada kampung halaman dan jiwanya yang religius, Umi Ayoy menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membangun majelis tempat anak-anak di kampungnya belajar ilmu agama.

Bagi Umi Ayoy, tidak ada pekerjaan yang memalukan selama dilakukan secara jujur. Semua pengalaman pahit manis yang pernah dilaluinya justru menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga.

“Saya yakin peluang bisa datang dari mana saja, asalkan dibarengi dengan keberanian mencoba, konsistensi, dan kemauan untuk terus bangkit setiap kali menghadapi kegagalan,” pungkas Umi Ayoy mengakhiri kisahnya.

Sumber: sukabumiku.id

(NK)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *