Merajut Asa Menjelang Tangisan Pertama: Perjuangan Keluarga di Sukalarang Mengakses JKN

foto istimewa

Senyum yang Menyambut di Teras Rumah

SUKABUMI – Gang sempit di Kampung Bayuresmi, Desa Titisan, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, hanya cukup dilalui sebuah sepeda motor. Di kanan dan kirinya, rumah-rumah sederhana berdiri saling berhimpitan. Tak jauh di belakang permukiman, megahnya bangunan pabrik sepatu menjulang—menjadi tumpuan mata pencaharian bagi sebagian warga sekitar.

Di pertengahan gang tersebut, berdiri dua rumah yang saling berdampingan. Satu rumah permanen sederhana dihuni oleh Nurpalah (34), suaminya Dadang Solihin (38) yang berprofesi sebagai pengemudi ojek pangkalan, serta tiga buah hati mereka. Tepat di sebelahnya, berdiri rumah panggung milik Hadi (70), ayah dari Dadang.

Si kecil Muhamad Sultan baru saja terbangun dari tidurnya. Balita mungil berusia delapan bulan itu memandangi wajah-wajah tamu yang hadir, lalu melempar senyum lebar. Tangan mungilnya terulur hangat, seolah mengajak siapa saja untuk bersalaman.

“Ini yang dulu harus dioperasi sesar, sekarang usianya baru delapan bulan. Alhamdulillah anaknya enggak rewel, enggak sakit-sakitan,” ujar Nurpalah kepada media pada Rabu (22/7/2026).

Sulit membayangkan bahwa delapan bulan sebelumnya, rumah sederhana ini pernah diselimuti kecemasan mendalam. Saat usia kandungan Nurpalah menginjak delapan bulan, tim medis memutuskan bahwa persalinan harus dilakukan melalui operasi sesar demi menyelamatkan jiwa ibu dan sang bayi. Beban mental keluarga kian memuncak tatkala mengetahui status kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mereka dalam kondisi nonaktif akibat tunggakan iuran.

“Pas lahiran anak kedua juga kami enggak pakai BPJS. Saya takut itu kejadian lagi, apalagi sekarang harus sesar,” kenang Nurpalah.

Di tengah keputusasaan, asa membimbing Nurpalah dan Dadang melangkah ke Kantor Desa Titisan. Di sana, mereka bertemu dengan Siti Rukoyah (38), seorang Agen Program PESIAR (Petakan, Sisir, Advokasi, Registrasi, dan Aktivasi) BPJS Kesehatan. Dari pertemuan itulah terungkap bahwa keluarga Nurpalah memiliki tunggakan iuran sekitar Rp2 juta yang harus dilunasi agar kartu JKN dapat kembali aktif.

Bagi keluarga yang bergantung pada penghasilan harian seorang pengemudi ojek pangkalan, angka Rp2 juta merupakan jumlah yang sangat berat. Namun, semangat kekeluargaan menjadi kunci penolong. “Alhamdulillah keluarga juga bergotong royong membantu melunasi tunggakan itu,” ujar Hadi, sang kakek.

Ketika Harapan Kembali Aktif

Kabar membahagiakan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba melalui sebuah panggilan telepon. Kepesertaan JKN keluarga Nurpalah resmi aktif kembali setelah mendapatkan pendampingan intensif dari Siti Rukoyah. Berita ini seketika menyapu bersih kegelisahan yang membayangi mereka selama berminggu-minggu.

“Saya sangat lega, sedikit nangis juga. Setidaknya saat itu saya berpikir, untuk biaya lahiran tidak perlu khawatir lagi,” tutur Nurpalah dengan mata berkaca-kaca.

Hingga kini, Siti Rukoyah masih mengingat jelas perjuangan keluarga tersebut. Ia mengungkapkan, prosedur operasi sesar di rumah sakit swasta tanpa perlindungan JKN dapat menelan biaya hingga Rp40 juta—sebuah angka yang mustahil terjangkau oleh keluarga Nurpalah.

Tepat pada 21 November 2025, tangis pertama Muhamad Sultan akhirnya membahana di ruang operasi. Bayi laki-laki seberat 3,2 kilogram itu lahir dengan selamat dan sehat.

“Saya tidak tahu bagaimana nasib saya kalau waktu itu kepesertaan BPJS Kesehatannya belum aktif. Enggak mungkin kalau pinjam sana-sini,” tutur Nurpalah penuh syukur.

‘Kalau Tidak Dipakai, Anggap Saja Sedekah’

Bagi Siti Rukoyah, pendampingan terhadap Nurpalah hanyalah satu dari sekian banyak kisah kemanusiaan yang ia temui. Sebelum mengemban amanah sebagai Agen PESIAR, Siti telah lama berkiprah sebagai kader Posyandu, kader sosial, dan petugas Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) Desa Titisan. Pengalaman lapangan mengajarkannya bahwa beban masyarakat sakit tidak hanya seputar biaya medis, melainkan juga biaya operasional hidup selama perawatan.

Ia menyadari, tantangan terbesarnya bukan sekadar memproses berkas administrasi, melainkan mengedukasi dan mengubah pola pikir masyarakat mengenai pentingnya JKN.

“Kalau iuran untuk satu keluarga memang mungkin terasa mahal, padahal enggak begitu jika dibandingkan manfaatnya. Kalau iurannya tidak terpakai, anggap saja sedekah,” tutur Siti.

Siti selalu menanamkan pemahaman bahwa iuran yang dibayarkan secara rutin akan menjadi penolong bagi sesama yang sedang terbaring sakit. Sebaliknya, ketika musibah datang menghampiri, sistem gotong royong peserta lain yang akan melindungi.

Pendekatan humanis ini membuahkan hasil nyata. Sejak Agustus 2025 hingga Juli 2026, Siti berhasil mendampingi 173 Kepala Keluarga (244 jiwa) di Desa Titisan terdaftar sebagai peserta JKN. Kini, hampir seluruh warga Desa Titisan telah berada di bawah payung perlindungan JKN.

Kepala Desa Titisan, Bangbang Nur Aripin, mengapresiasi tinggi capaian ini dan berharap pendampingan serupa terus diperkuat. “Kesehatan dan pendidikan merupakan kebutuhan paling mendasar. Kami berharap pemerintah pusat terus memaksimalkan sektor kesehatan termasuk jaminan kesehatan dan pendidikan,” ungkap Bangbang.

Gotong Royong yang Menjaga Kehidupan

Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sukabumi, Nora Duita Manurung, menegaskan bahwa kisah Nurpalah adalah bukti nyata bagaimana Program PESIAR berhasil menjembatani kebutuhan mendesak masyarakat di tingkat tapak.

baca juga:Mengulas Fenomena Viral Joget Sadbor Sukabumi: Dari Lumbung Cuan Kampung hingga Berujung Penjara

“Program PESIAR hadir mendekatkan layanan hingga ke desa dan kelurahan melalui agen yang berasal dari lingkungan masyarakat setempat. Agen hadir mendampingi masyarakat hingga memperoleh akses pelayanan kesehatan tepat waktu, termasuk untuk kebutuhan mendesak seperti persalinan sesar,” jelas Nora.

Capaian Program PESIAR & JKN di Wilayah Cabang Sukabumi (Hingga Juli 2026):

  • Desa/Kelurahan Terjangkau: 105 Desa/Kelurahan telah memiliki Agen PESIAR.
  • Pendaftaran Peserta Baru: 4.278 jiwa berhasil terdaftar sebagai peserta JKN.
  • Aktivasi Kepesertaan: 1.768 peserta berhasil diaktifkan kembali kepesertaannya.
  • Cakupan Kepesertaan JKN:
    • Kota Sukabumi: 99,70%
    • Kabupaten Cianjur: 98,87%
    • Kabupaten Sukabumi: 92,97%

Nora menambahkan bahwa Program JKN bukan sekadar instrumen pembiayaan kesehatan, melainkan wujud nyata dari solidaritas sosial dan kepedulian antar sesama warga negara.

“Ketika melihat masyarakat dapat menjalani berbagai layanan kesehatan seperti operasi, persalinan, atau pengobatan lainnya tanpa terbebani biaya yang sangat besar, di situlah kita melihat bahwa semangat gotong royong benar-benar hadir,” pungkas Nora.

SUMBER:sukabumiku.id

(RM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *