foto istimewa
NEW YORK — Presiden Palestina Mahmoud Abbas melayangkan desakan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar menepati komitmen yang pernah disampaikan kepada para pemimpin Arab dan Islam. Abbas meminta AS dan komunitas internasional mengambil langkah nyata untuk mencegah pengusiran warga Palestina serta aneksasi wilayah.
Pernyataan tersebut disampaikan Abbas melalui rekaman video dalam Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengingat ia kembali berhalangan hadir secara langsung akibat pembatasan visa oleh AS.
Tagih Janji Terkait Aneksasi dan Pengusiran
Dalam pidatonya, Abbas secara khusus mengingatkan janji politik yang pernah diutarakan Trump pada September 2025 lalu kepada para pemimpin negara-negara Arab dan Muslim. Berdasarkan laporan media internasional, Trump saat itu berjanji tidak akan membiarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki.
“Kami meminta Presiden Trump untuk menepati janji yang ia sampaikan kepada para pemimpin Arab dan Islam pada bulan September lalu, yaitu mencegah aneksasi wilayah Palestina dan menolak pengusiran,” ujar Abbas, dilansir Anadolu Agency.
Meski pihak Palestina menyambut baik rencana perdamaian 20 poin untuk Gaza yang sempat diumumkan Trump sebelumnya, Abbas menyayangkan belum adanya progres atau perubahan signifikan yang dirasakan langsung di lapangan.
baca juga:tangkapan-layar-video-viral-perusakan-rocket-stove-mahasiswa-kkn-sukabumi-1786617176575_169
Situasi Kritis dan Ancaman Eksistensial di Gaza-Tepi Barat
Di hadapan para delegasi dunia, Abbas menggambarkan kondisi saat ini sebagai salah satu periode paling berbahaya dalam sejarah perjuangan bangsa Palestina. Ia menyoroti rentetan kekerasan, kehancuran masif, ancaman kelaparan, hingga upaya pengusiran paksa yang terus berlangsung di Jalur Gaza.
Selain Jalur Gaza, situasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur juga tak luput dari perhatian. Abbas menyebut perluasan permukiman ilegal oleh Israel kian masif dan cepat, disertai peningkatan kekerasan bersenjata yang dilindungi oleh pasukan pendudukan. Menurutnya, kebijakan-kebijakan tersebut bukan lagi sekadar melemahkan solusi dua negara, melainkan telah menjelma menjadi “ancaman eksistensial” bagi keberadaan warga Palestina di tanah kelahirannya sendiri.
“Rakyat kami akan tetap berada di tanah mereka dan tidak akan menerima pengusiran. Pendudukan dan aktivitas permukiman bukanlah sebuah solusi,” tegas Abbas.
Desak Solusi Dua Negara dan Penyatuan Wilayah
Menutup pidatonya, Presiden Palestina mendesak Washington agar bersinergi penuh dengan kepemimpinan Palestina dan dunia internasional guna merealisasikan solusi dua negara yang berpijak pada hukum internasional. Ia juga menegaskan komitmen bahwa masa transisi konflik pada akhirnya harus bermuara pada penyatuan kembali Jalur Gaza dan Tepi Barat di bawah satu kedaulatan negara Palestina yang sah.
Ikuti terus perkembangan berita internasional terkini dan informasi aktual lainnya hanya di sukabumilife.com!
sumber:detiknews
(RM)









