134 Santri dan Pengajar Ponpes Baiti Jannati Sukabumi Dilarikan ke RS, Diduga Keracunan Makanan

FOTO ISTIMEWA

SUKABUMILIFE.COM – Sebanyak 134 santri dan pengajar dari Pondok Pesantren (Ponpes) Baiti Jannati, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, harus mendapatkan perawatan medis darurat di rumah sakit. Mereka mengeluhkan gejala kesehatan yang sama, mulai dari pusing, mual, mulas, diare, hingga muntah-muntah.

Peristiwa tersebut dirasakan secara bertahap sejak Jumat (14/8/2026) hingga puncaknya pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Dari total sekitar 645 santri yang bermukim di pesantren tersebut, para korban yang terdiri dari tingkat SMP, SMA, serta seorang ustazah dilarikan ke RSUD Al-Mulk dan RSUD R. Syamsudin, SH (RS Bunut).

Kejadian berawal pada Jumat sekitar pukul 12.30 WIB ketika para santri menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menu yang disajikan saat itu terdiri dari nasi, tumis pakcoy, telur ceplok balado, orek tempe, serta minuman susu kemasan.

Sekitar dua jam pascamenyantap makanan atau pukul 14.30 WIB, beberapa santri mulai merasakan pusing. Kondisi semakin parah saat memasuki Sabtu pagi usai para santri mengikuti kegiatan halaqah Subuh. Gelombang santri yang mengalami muntah massal meningkat tajam sehingga pengurus pondok bergerak cepat melarikan mereka ke fasilitas kesehatan.

Pengurus Ponpes Baiti Jannati, Faid Fauzan, menjelaskan bahwa pihak pesantren langsung membawa beberapa santri ke puskesmas terdekat sebelum akhirnya dirujuk ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit daerah karena jumlah pasien terus bertambah.

“Mencuatnya itu setelah Subuh. Kami bawa beberapa anak yang sudah muntah dan pusing ke puskesmas. Puskesmas menganjurkan ke IGD RSUD Al-Mulk, namun karena jumlahnya terus bertambah, sebagian disarankan untuk dibawa ke RSUD Syamsudin,” kata Faid, Sabtu (15/8/2026).

BACA JUGA :Cara Kulineran tetap Aman Meski sedang Diare

Kendati gejala mulai terasa usai mengonsumsi santapan MBG, pihak pesantren meminta semua pihak untuk tidak langsung mengambil kesimpulan sepihak sebelum adanya hasil pemeriksaan resmi.

Faid menerangkan bahwa kerja sama pesantren dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyedia MBG telah berjalan lancar selama 7 bulan tanpa ada kendala. Selain itu, terdapat jeda waktu yang cukup lama dari jam makan siang MBG hingga gejala massal merebak di pagi hari keesokannya. Pada Jumat malam, para santri juga mengonsumsi sajian dari dapur internal pesantren.

“MBG itu makan siang, sementara anak-anak mengalami gejala parah pada pagi harinya. Masih ada menu makan malam yang disediakan dapur internal pondok pesantren. Karena itu kami melihat hal ini secara objektif dan menunggu hasil analisis medis,” jelasnya.

Guna memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan massal ini, Dinas Kesehatan Kota Sukabumi telah turun tangan mengambil sampel makanan dari program MBG maupun dari dapur internal pesantren. Sampel makanan tersebut nantinya akan diuji di laboratorium dan dicocokkan dengan hasil sampel feses dari para pasien.

Saat ini pihak pesantren, kepolisian, dan pemerintah daerah masih menunggu hasil uji laboratorium untuk menentukan tindakan dan langkah penanganan selanjutnya.

SUMBER : SUKABUMIKU.ID

(AN)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *