Dugaan Keracunan Massal MBG di Ponpes Baiti Jannati, Pihak SPPG Memilih Bungkam

SUKABUMILIFE.COM — Insiden dugaan keracunan massal yang menimpa 134 santri dan pengajar Pondok Pesantren Baiti Jannati, Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, terus bergulir. Dua perwakilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke pesantren tersebut memilih bungkam saat dikonfirmasi oleh awak media pada Sabtu (15/8/2026).

Kedua lembaga penyuplai makanan tersebut diketahui merupakan SPPG Al Muslim dan SPPG Cemerlang. Perwakilan dari kedua SPPG beserta pihak Mitra Dapur hadir di lingkungan pesantren bersamaan dengan kedatangan tim Dinas Kesehatan Kota Sukabumi untuk melakukan penanganan dan pemeriksaan.

Namun, saat dicecar pertanyaan oleh wartawan mengenai menu makanan yang disalurkan serta keterkaitannya dengan kasus ini, perwakilan SPPG enggan memberikan keterangan. Pihaknya beralasan masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi.

Kronologi dan Penanganan Korban

Gejala kesehatan seperti pusing, mual, diare, hingga muntah mulai dirasakan para santri sejak Jumat (14/8/2026) dan melonjak usai ibadah Subuh pada Sabtu pagi.

Pengurus Ponpes Baiti Jannati, Faid Fauzan, menjelaskan langkah penanganan yang telah diambil oleh pihak pesantren:

  • Penanganan Awal: Sejumlah santri yang mengeluhkan sakit langsung dilarikan ke puskesmas terdekat.
  • Rujukan Medis: Karena jumlah korban terus bertambah, beberapa santri dirujuk ke IGD RSUD Al-Mulk dan RSUD R. Syamsudin (RS Bunut).

Faid menegaskan bahwa pihak pesantren belum berani menyimpulkan bahwa makanan dari program MBG menjadi penyebab utama insiden ini. Pasalnya, selain makanan MBG, santri juga mengonsumsi makanan dari dapur internal pesantren.

Langkah Dinas Kesehatan

Untuk memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan massal ini, Dinas Kesehatan Kota Sukabumi telah mengambil sejumlah sampel untuk diuji di laboratorium, meliputi:

  1. Sampel makanan dari program MBG (SPPG Al Muslim dan SPPG Cemerlang).
  2. Sampel makanan dari dapur internal pesantren.
  3. Sampel medis dari para korban untuk dicocokkan secara medis.

Hingga berita ini diturunkan, seluruh pihak masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan guna memastikan sumber penyebab keracunan tersebut.

Dugaan Keracunan Massal MBG di Ponpes Baiti Jannati, Pihak SPPG Memilih Bungkam

SUKABUMI — Insiden dugaan keracunan massal yang menimpa 134 santri dan pengajar Pondok Pesantren Baiti Jannati, Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, terus bergulir. Dua perwakilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke pesantren tersebut memilih bungkam saat dikonfirmasi oleh awak media pada Sabtu (15/8/2026).

Kedua lembaga penyuplai makanan tersebut diketahui merupakan SPPG Al Muslim dan SPPG Cemerlang. Perwakilan dari kedua SPPG beserta pihak Mitra Dapur hadir di lingkungan pesantren bersamaan dengan kedatangan tim Dinas Kesehatan Kota Sukabumi untuk melakukan penanganan dan pemeriksaan.

Namun, saat dicecar pertanyaan oleh wartawan mengenai menu makanan yang disalurkan serta keterkaitannya dengan kasus ini, perwakilan SPPG enggan memberikan keterangan. Pihaknya beralasan masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi.

Kronologi dan Penanganan Korban

Gejala kesehatan seperti pusing, mual, diare, hingga muntah mulai dirasakan para santri sejak Jumat (14/8/2026) dan melonjak usai ibadah Subuh pada Sabtu pagi.

Pengurus Ponpes Baiti Jannati, Faid Fauzan, menjelaskan langkah penanganan yang telah diambil oleh pihak pesantren:

  • Penanganan Awal: Sejumlah santri yang mengeluhkan sakit langsung dilarikan ke puskesmas terdekat.
  • Rujukan Medis: Karena jumlah korban terus bertambah, beberapa santri dirujuk ke IGD RSUD Al-Mulk dan RSUD R. Syamsudin (RS Bunut).

Faid menegaskan bahwa pihak pesantren belum berani menyimpulkan bahwa makanan dari program MBG menjadi penyebab utama insiden ini. Pasalnya, selain makanan MBG, santri juga mengonsumsi makanan dari dapur internal pesantren.

BACA JUGA :Dilaporkan ke BKPSDM, Lurah Palabuhanratu Bantah Terlibat Bisnis Sawdust PLTU

Langkah Dinas Kesehatan

Untuk memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan massal ini, Dinas Kesehatan Kota Sukabumi telah mengambil sejumlah sampel untuk diuji di laboratorium, meliputi:

  1. Sampel makanan dari program MBG (SPPG Al Muslim dan SPPG Cemerlang).
  2. Sampel makanan dari dapur internal pesantren.
  3. Sampel medis dari para korban untuk dicocokkan secara medis.

Hingga berita ini diturunkan, seluruh pihak masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan guna memastikan sumber penyebab keracunan tersebut.

SUMBER : SUKABUMIKU.ID

(AN)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *