Foto istimewa
SukabumiIlife.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026) dini hari memicu perhatian masyarakat Kota Sukabumi. Meski belum menimbulkan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), lonjakan harga Pertamax dinilai berpotensi memberikan dampak berantai terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Pantauan di SPBU 34.43118, Kelurahan/Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, menunjukkan aktivitas pengisian BBM masih berjalan normal. Pengendara roda dua maupun roda empat tetap datang mengisi bahan bakar seperti biasa tanpa adanya lonjakan pembelian yang signifikan.
Pelayanan SPBU Normal dan Stok Dipastikan Aman
Pengawas SPBU 34.43118 Kota Sukabumi, Hendro Harianto Pasaribu, mengonfirmasi bahwa pihak manajemen telah menerapkan penyesuaian harga baru sejak tengah malam. Sejauh ini, operasional dan distribusi berjalan tanpa kendala berarti.
Beberapa poin penting terkait kondisi di lapangan:
- Pemberlakuan Harga: Resmi berjalan sejak Rabu (10/6/2026) dini hari.
- Kondisi Stok: Pasokan seluruh jenis BBM dipastikan aman dan mencukupi kebutuhan konsumen.
- Pola Konsumsi: Belum terlihat adanya perubahan drastis atau migrasi massal dari konsumen Pertamax.
“Perubahan harga memang sudah diberlakukan sejak dini hari. Namun pelayanan tetap normal. Ketersediaan stok aman, masyarakat tidak perlu khawatir karena distribusi berjalan lancar,” ujar Hendro, Rabu (10/6/2026).
Hendro juga berharap kondisi harga energi dapat kembali stabil agar tidak menambah beban operasional para pengguna kendaraan, khususnya mereka yang selama ini mengandalkan BBM nonsubsidi demi menjaga kualitas mesin kendaraan.
Baca juga:Bisnis Kuliner Tak Cukup Modal Viral? Mahasiswa Manajemen UNM Bongkar Rahasia Sukses Mie Khangen!
Sopir Angkot Cemas Imbas Kenaikan Harga Barang
Di sisi lain, sebagian masyarakat yang menggunakan BBM subsidi mengaku belum merasakan dampak langsung secara personal. Ujang, seorang sopir angkutan kota (angkot) di wilayah Kota Sukabumi, menjelaskan bahwa dapur operasionalnya belum terganggu karena armada angkot masih mengonsumsi Pertalite.
“Untuk saat ini belum terlalu berpengaruh karena kendaraan kami masih menggunakan Pertalite. Jadi biaya operasional masih sama seperti sebelumnya,” kata Ujang.
Meski demikian, Ujang dan sejumlah warga lainnya tetap menyimpan kekhawatiran besar. Menurutnya, sejarah mencatat bahwa setiap ada kenaikan komoditas BBM—meski nonsubsidi—biasanya akan memicu efek domino pada kenaikan harga barang dan jasa di sektor lain.
“Biasanya kalau BBM naik ada dampaknya ke sektor lain. Harapannya pemerintah bisa menjaga stabilitas harga supaya masyarakat tidak semakin berat menghadapi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.
Sumber:Sukabumiku.id
(RR)









