Gambar istimewah
redaksi
8 Juni 2026
Kasus infeksi cacing di Sukabumi memicu kekhawatiran publik hingga memicu tren konsumsi obat cacing di media sosial. Foto: Getty Images/PeopleImages
SUKABUMILIFE.ID – Kasus kematian tragis seorang balita akibat infeksi kecacingan di Sukabumi, Jawa Barat, berbuntut panjang. Peristiwa memilukan tersebut rupanya memicu gelombang kepanikan (panic buying) di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z.
Pantauan di berbagai platform media sosial seperti TikTok, tidak sedikit anak muda yang mengaku cemas dan langsung berbondong-bondong membeli serta mengonsumsi obat cacing di usia dewasa. Banyak dari mereka yang menyadari sudah bertahun-tahun tidak mengonsumsi obat tersebut sejak masa sekolah dasar (SD).
“Jangan lupa minum obat cacing 6 bulan sekali. Terakhir minum pas SD, sekarang umur 26 baru minum lagi,” tulis salah satu narasi video yang viral di TikTok.
Baca juga:Bisnis Kuliner Tak Cukup Modal Viral? Mahasiswa Manajemen UNM Bongkar Rahasia Sukses Mie Khangen!
Tanggapan Dokter: Aman, tapi Jangan Sembarangan
Menanggapi fenomena tersebut, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Riyadi, Sp.A, Subs. IPT(K), M.Kes., menjelaskan bahwa infeksi cacing memang bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Kendati demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengonsumsinya secara berlebihan tanpa indikasi medis yang jelas.
dr. Riyadi menegaskan bahwa konsumsi obat cacing, terutama jenis albendazol, idealnya harus berdasarkan saran atau resep dari tenaga medis.
“Minum obat cacing kalau bergejala boleh, umur 1 tahun sampai umur berapa pun bisa. Di atas 1 tahun, kalau ada gejala, ada indikasi, jangan lupa minum obat harus dengan saran dokter,” terang dr. Riyadi dalam sebuah agenda temu media.
“Obat cacing itu kayak antibiotik, dia antimikroba. Jangan berlebihan karena ada kemungkinan resisten,” tegasnya.
Kenali Gejala dan Risiko Jangka Panjang
Sama halnya dengan anak-anak, infeksi cacing pada orang dewasa umumnya terjadi akibat buruknya sanitasi lingkungan serta kurangnya menjaga kebersihan pribadi (personal hygiene). Penularan paling sering terjadi melalui makanan atau tangan yang tidak sengaja terkontaminasi telur cacing.
Merujuk pada data medis Mayo Clinic, ada beberapa gejala umum yang patut diwaspadai jika seseorang mengalami kecacingan, antara lain:
- Rasa gatal di area sekitar anus atau vagina.
- Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare.
- Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas.
- Tubuh mudah merasa lelah dan lemas.
Lebih lanjut, dr. Riyadi menambahkan bahwa kasus kecacingan sebenarnya sangat jarang berujung pada kematian mendadak, namun memiliki risiko tinggi menjadi penyakit kronis. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, infeksi ini dapat menurunkan daya tahan tubuh secara drastis, sehingga membuat penderitanya menjadi jauh lebih rentan terhadap serangan penyakit infeksi lainnya.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, menjaga kebersihan makanan, rutin mencuci tangan dengan sabun, dan berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum memutuskan untuk mengonsumsi obat-obatan secara mandiri.









