Bukan Cuma Penindakan Hukum, BNN Perkuat Ketahanan Masyarakat Hadapi Ancaman Narkotika

foto istimewa

SUKABUMILIFE.COM — Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) terus menggalakkan strategi pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika di tanah air. Tidak sekadar mengandalkan penindakan hukum dan penangkapan, BNN melangkah lebih jauh dengan membangun ketahanan masyarakat dari hulu hingga hilir, mulai dari edukasi anak usia dini hingga pemberdayaan ekonomi warga di kawasan rawan.

Upaya komprehensif ini menjadi fokus utama dalam rangkaian peringatan Hari Anti-Narkotika Internasional (HANI) 2026. Momentum tersebut diselaraskan dengan peringatan Hari Anak Nasional melalui program unggulan Ananda Bersinar (Aksi Nasional Anti-Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkotika).

Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN RI, Aldrin Hutabarat, menjelaskan bahwa jajaran BNN—baik di tingkat pusat, provinsi, hingga BNN Kabupaten/Kota—terus bergerak aktif mengedukasi masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan literasi.

“Kegiatan-kegiatan yang dilakukan BNN, termasuk di BNN Provinsi maupun BNN Kabupaten/Kota, meliputi bakti sosial, penyuluhan, edukasi, dan literasi kepada masyarakat,” ujar Aldrin di sela-sela puncak peringatan HANI 2026 yang berlangsung di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Aldrin, pemahaman dasar mengenai bahaya narkotika sangat krusial ditanamkan sejak dini agar masyarakat memiliki daya tangkal dan mampu berpartisipasi aktif dalam memutus rantai peredaran gelap narkoba.

baca juga:Mengintip Kondisi TPS Cidahon Citepus, Lokasi Pikap Viral yang Buang Sampah Semobil

“Hal ini diperlukan agar masyarakat mendapatkan pencerahan, edukasi, dan literasi terkait upaya pemberantasan narkotika dari hulu sampai hilir, dan semuanya kita mulai dari anak,” tegasnya.

Pemberdayaan Ekonomi: Mengubah Kawasan Rawan Jadi Mandiri

Selain pencegahan berbasis edukasi, BNN juga fokus menyelesaikan akar masalah sosial dan ekonomi yang kerap memicu keterlibatan warga dalam lingkaran ekonomi ilegal. Salah satu program andalannya adalah Grand Design Alternative Development (GDAD).

Melalui program GDAD, masyarakat di wilayah rawan diajak beralih dari aktivitas ilegal ke komoditas pertanian dan UMKM yang produktif serta bernilai jual tinggi. Strategi ini sukses diterapkan di Aceh—wilayah yang secara historis memiliki pemusnahan ladang ganja terbesar di Indonesia.

Sebagai gambaran, sepanjang periode 2007–2016, BNN mencatat pemusnahan ladang ganja mencapai lebih dari 2.119 hektare, dengan puncaknya pada 2016 seluas 487 hektare. Lewat alih fungsi melalui GDAD, lahan-lahan tersebut kini disulap menjadi perkebunan kopi dan jagung.

BNN tidak hanya menyuruh warga mengganti tanaman, tetapi juga mendampingi dari hilir:

  • Pelatihan keterampilan & kelembagaan: Pembentukan koperasi warga.
  • Fasilitas pengolahan: Pembangunan unit pengolahan hasil panen (seperti kopi di Gayo Lues).
  • Akses pasar: Kerja sama dengan pembeli (offtaker) agar hasil panen warga terserap secara berkelanjutan.

Sinergi Semua Elemen Masyarakat

Pendekatan holistik yang menyentuh akar persoalan sosial-ekonomi ini diharapkan mampu membendung peredaran narkotika secara permanen. Namun, Aldrin menekankan bahwa BNN tidak bisa berjalan sendiri.

Diperlukan sinergi kuat antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, media, hingga peran aktif komunitas lokal agar lingkungan yang bersih dari narkoba (Bersinar) dapat terwujud secara merata di seluruh daerah, termasuk di Jawa Barat dan Sukabumi.

“Diperlukan sinergitas, kerja sama, koordinasi, dan kolaborasi dari seluruh kementerian, lembaga, serta elemen masyarakat dalam rangka pencegahan dan pemberantasan narkotika secara berkelanjutan,” pungkas Aldrin.

Sumber:detiknews

(LS)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *