Heboh Bocah di Sukabumi Kecanduan Hirup Aroma Bensin, Ini Kata Psikolog!

Foto istimewa

SUKABUMILIFE.COM — Jagat media sosial dan warga Sukabumi baru-baru ini dikejutkan oleh kabar mengenai seorang anak yang mengalami kecanduan tidak biasa, yakni gemar menghirup aroma bensin. Fenomena memprihatinkan ini langsung memicu perhatian publik, termasuk para ahli perilaku dan psikolog.

Kecanduan menghirup zat volatil (mudah menguap) seperti bensin atau lem pada anak-anak bukanlah kasus baru, namun dampaknya terhadap tumbuh kembang anak sangatlah fatal. Menanggapi fenomena ini, psikolog pun angkat bicara untuk membedah apa yang sebenarnya terjadi pada sang anak.

Mengapa Bisa Kecanduan Bensin?

Menurut penjelasan psikolog, ada beberapa faktor utama yang memicu seorang anak bisa terjerumus dalam kebiasaan berbahaya ini:

  • Efek Halusinasi dan Ketenangan Sesaat: Aroma bensin mengandung senyawa kimia yang dapat memberikan efek euforia, rasa melayang (fly), hingga ketenangan sementara bagi si anak.
  • Faktor Lingkungan dan Pola Asuh: Seringkali kebiasaan ini bermula dari rasa penasaran (eksplorasi anak) yang kurang diawasi oleh orang tua, atau meniru perilaku dari lingkungan sekitar.
  • Kondisi Psikologis Tertentu: Kadang, perilaku menyimpang ini menjadi pelarian anak dari rasa stres, kecemasan, atau kurangnya perhatian emosional di rumah.

Dampak Buruk yang Mengintai

Catatan Redaksi: Menghirup uap bensin secara sengaja dan terus-menerus bukanlah sekadar “kebiasaan aneh”, melainkan bentuk zat adiktif yang merusak tubuh.

Jika dibiarkan tanpa penanganan medis dan psikologis, kebiasaan ini bisa memicu dampak mengerikan bagi masa depan anak, di antaranya:

  1. Kerusakan Otak: Zat kimia bensin dapat merusak sel-sel saraf pusat dan menurunkan fungsi kognitif (daya ingat dan konsentrasi anak).
  2. Gangguan Fisik: Risiko kerusakan paru-paru, hati, ginjal, hingga gangguan sumsum tulang belakang.
  3. Perubahan Perilaku: Anak cenderung menjadi lebih agresif, mudah marah, atau justru menarik diri dari lingkungan sosial jika tidak mendapatkan zat tersebut.

Baca juga:Sampai Belajar Bahasa Sunda, Viral Warga Kalbar Mau ‘Pinjam’ KDM Buat Perbaiki Jalan

Solusi dan Langkah Penanganan

Psikolog menyarankan agar orang tua dan masyarakat sekitar tidak langsung menghakimi atau memarahi anak secara kasar. Langkah-langkah berikut sangat direkomendasikan:

  • Pendekatan Medis dan Detoksifikasi: Anak perlu diperiksakan ke dokter untuk melihat sejauh mana dampak fisik yang sudah terjadi.
  • Terapi Psikologis (Konseling): Pendampingan oleh psikolog atau psikiater sangat penting untuk memutus rantai kecanduan dan mencari tahu akar masalah emosional anak.
  • Pengawasan Ketat namun Humanis: Jauhkan anak dari akses terhadap bensin atau zat serupa, lalu alihkan perhatiannya ke aktivitas positif yang menguras energi, seperti olahraga atau hobi baru.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi kita semua, khususnya para orang tua di Sukabumi, untuk lebih peka dan memperketat pengawasan terhadap tumbuh kembang serta perilaku anak sehari-hari.

Sumber: detikjabar

(RR)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *