FOTO ISTIMEWA
SUKABUMILIFE.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bakal melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Pergerakan positif mata uang Garuda ini didorong oleh pelemahan indeks dolar AS serta meningkatnya optimisme di pasar global.
Dilansir dari Bisnis.com, pada perdagangan Kamis (7/5/2026), rupiah ditutup menguat 0,30 persen ke level Rp17.320 per dolar AS. Sepanjang hari kemarin, rupiah bergerak fluktuatif namun kokoh pada rentang Rp17.292 hingga Rp17.372 per dolar AS.
Kondisi ini sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia yang ikut unjuk gigi terhadap dolar AS. Yuan China tercatat naik 0,17 persen, dolar Hong Kong menguat 0,05 persen, yen Jepang naik 0,10 persen, dolar Singapura menguat 0,17 persen, baht Thailand naik 0,28 persen, dan dolar Taiwan menguat 0,19 persen. Sebaliknya, won Korea Selatan justru terpantau melemah 0,21 persen.
Redanya Ketegangan Geopolitik Iran-AS
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan indeks dolar AS saat ini dipicu oleh optimisme pasar terkait potensi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat.
Pasar merespons positif sinyal dari Teheran yang tengah meninjau proposal perdamaian dari AS, yang diharapkan bisa mengakhiri konflik di kawasan tersebut.
Selain faktor geopolitik, para pelaku pasar global kini tengah menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data yang dinantikan di antaranya adalah Klaim Pengangguran Awal, pidato pejabat bank sentral AS (The Fed), serta laporan ketenagakerjaan AS periode April yang dijadwalkan rilis Jumat (8/5/2026). Data-data ini diprediksi akan menjadi kompas bagi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
BACA JUGA: Resep Pizza Teflon Praktis, Menu Rumahan Kekinian yang Wajib Dicoba Ala Sukabumi
Soroti Tekanan Fiskal dan Opsi Harga BBM di Dalam Negeri
Dari sentimen domestik, Ibrahim menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintah terkait potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Tekanan fiskal kian terasa akibat tingginya harga energi global yang bertahan lama.
“Kondisi geopolitik yang tidak pasti membuat harga energi bertahan di level tinggi dalam waktu yang lama. Dengan crack spread yang masih tinggi, biaya subsidi bisa lebih besar dari perhitungan pemerintah di APBN,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, pemerintah sebenarnya memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Namun, langkah tersebut dipandang sebagai opsi terakhir ( last resort ) karena berisiko langsung menekan daya beli masyarakat luas.
Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif namun memiliki kecenderungan ditutup menguat pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.340 per dolar AS.
SUMBER: SUKABUMIKU.ID
[RS]









