Inspirasi Kreatif: Anak Muda Sampit Manfaatkan Tren ‘Cermin Cembung’ Jadi Bisnis Viral Beromzet Cuan!

gambar istimewah

SUKABUMILIFE.ID — Tren media sosial selalu melahirkan fenomena baru. Di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tren foto convex mirror selfie atau berswafoto menggunakan cermin cembung jalanan kini berubah menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.

Adalah Jakaria, seorang pemuda kreatif yang berhasil menangkap peluang usaha dari fenomena digital yang tengah digandrungi gen-Z dan milenial ini.

“Awalnya lihat tren ini ramai di media sosial, terus saya kepikiran coba bawa ke Sampit karena belum ada,” kata Jakaria saat ditemui di kawasan Taman Kota Sampit.

Berbekal Modal Minim, Bidik Lokasi Keramaian

Dengan perlengkapan yang tergolong sederhana, Jakaria rutin menawarkan jasa foto cermin cembung ini di sejumlah titik kumpul warga Sampit. Lokasi operasinya meliputi:

  • Kawasan Car Free Day (CFD) Taman Kota Sampit
  • Kawasan ikonik Taman Jelawat
  • Area Terowongan Nur Mentaya (sore hingga malam hari)

Pantulan dari cermin cembung jalanan ini menghasilkan efek visual fisheye yang unik, estetik, dan memiliki sudut pandang (angle) yang luas. Efek melengkung inilah yang dicari oleh anak-anak muda untuk mempercantik linimasa media sosial mereka.

baca juga : Bisnis Kuliner Tak Cukup Modal Viral? Mahasiswa Manajemen UNM Bongkar Rahasia Sukses Mie Khangen!

Tarif Merakyat, Ramai di Akhir Pekan

Untuk menikmati sensasi foto estetik ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Jakaria hanya mematok tarif Rp5.000 per sesi.

Dalam durasi sekitar tiga menit, pelanggan dibebaskan mengambil foto sepuasnya menggunakan kamera smartphone pribadi mereka. Namun, Jakaria mengaku tidak kaku soal waktu.

“Yang paling ramai biasanya pas sore atau malam akhir pekan. Banyak yang penasaran karena hasil fotonya beda. Kalau lagi sepi, ya silakan saja mau foto lebih lama juga tidak masalah,” ucapnya ramah.

Manajemen Waktu: Cerdas Manfaatkan Waktu Luang

Di balik kegigihannya membuka bisnis sampingan ini, Jakaria ternyata merupakan seorang karyawan aktif di salah satu pusat perbelanjaan di Sampit. Sistem kerja bergeser (shifting) di tempat kerja utamanya justru ia manfaatkan untuk memutar otak dan mencari penghasilan tambahan.

Menariknya, modal awal yang dikeluarkan Jakaria tergolong sangat kecil, yaitu sekitar Rp400 ribu saja.

  • Cermin Cembung: Dibeli secara daring seharga Rp200 ribu.
  • Perlengkapan Pendukung: Tiang penyangga, cat pilox, dan stiker dibeli di toko lokal setempat.

Nilai Positif dari Bisnis Berbasis Tren Digital

Aksi kreatif Jakaria menorehkan beberapa catatan penting tentang bagaimana generasi muda bisa mandiri secara finansial melalui ekosistem digital:

  • Inovasi Berbasis Tren: Cermat mengidentifikasi apa yang sedang viral dan membawanya ke pasar lokal yang belum terjamah.
  • Low Budget, High Demand: Menjadi bukti nyata bahwa memulai bisnis bernilai jual tinggi tidak selalu membutuhkan modal jutaan rupiah.
  • Fleksibilitas Waktu: Mampu membagi fokus antara pekerjaan utama dan bisnis sampingan secara produktif.

Fenomena Jakaria di Sampit ini menjadi tamparan positif sekaligus inspirasi bagi anak muda di daerah lain—termasuk di Sukabumi—bahwa tren di internet tidak hanya untuk dilihat, tetapi bisa diubah menjadi sumber ekonomi kreatif yang menghasilkan jika dikelola dengan jeli.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *