FOTO ISTIMEWAH
SUKABUMILIFE.ID, SURAKARTA – Pernahkah Anda membuka media sosial dan mendapati linimasa penuh dengan unggahan keringat, pakaian olahraga (outfit) yang estetik, hingga tangkapan layar aplikasi pencatat lari seperti Strava?
Belakangan ini, berbagai jenis olahraga seperti gym, fun run, thrill run, hingga padel tennis kian marak digandrungi oleh generasi muda. Pertanyaannya, apakah maraknya fenomena ini lahir dari kesadaran hidup sehat yang murni, atau sekadar terjebak pusaran FOMO (fear of missing out) alias ketakutan akan ketinggalan tren semata?
Dua Sisi Mata Uang Pengaruh Media Sosial
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani (Penjas) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Eko Sudarmanto, S.Pd., M.Or., menilai bahwa viralnya aktivitas olahraga di dunia maya memiliki dua sisi yang perlu disikapi secara bijak.
Di satu sisi, media sosial terbukti efektif menjadi pemantik awal yang mendorong aspek psikologis seseorang untuk mulai aktif bergerak. Namun di sisi lain, motivasi yang melulu didorong oleh tren tanpa persiapan matang justru menyimpan bahaya yang nyata.
“Kalau hanya reaktif karena melihat teman unggah Strava 10 kilometer lalu kita langsung daftar lari 15 kilometer tanpa persiapan, itu berbahaya. Olahraga harus terukur dan terstruktur,” tegas Dr. Eko Sudarmanto, Senin (2/3/2026).
Bahaya Nyata Overtraining: Mengapa Tubuh Bukan Galon Air
Dr. Eko mengibaratkan kapasitas fisik manusia layaknya sebuah galon air. Jika sebuah galon hanya mampu menampung tiga liter namun dipaksa diisi hingga lima liter, maka galon tersebut akan pecah. Dalam istilah olahraga, pemaksaan kapasitas ini dikenal dengan sebutan overtraining.
Overtraining tidak boleh diremehkan karena dapat memengaruhi kesehatan otot, kapasitas paru-paru, stabilitas jantung, hingga mengganggu kualitas tidur seseorang. Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya latihan yang terukur melalui tahapan berikut:
- Adaptasi Anatomi: Otot manusia memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan beban fisik yang akan diterima secara bertahap.
- Pendekatan Step-by-Step: Jika memiliki target jarak tertentu, mulailah dari jarak pendek secara berkala demi membangun ketahanan tubuh yang aman.
- Penerapan Struktur Latihan: Mengatur porsi latihan menggunakan hitungan set dan repetisi yang jelas untuk mencapai target performa secara optimal.
Pergeseran Motivasi: Dari Validasi Sosial Menuju Habit
Bangun tidur dan melihat aktivitas olahraga teman di gawai memang kerap memicu rasa gengsi yang mendorong seseorang untuk ikut bergerak. Dr. Eko menyebut fase awal yang didasari gengsi tersebut sebagai pintu masuk yang tetap bernilai positif.
Kendati demikian, olahraga tidak boleh dilakukan semata-mata demi mengejar validasi sosial. Jika motivasi utamanya hanya bersifat eksternal, maka saat tren tersebut meredup, semangat berolahraga akan ikut hilang dan berpotensi memunculkan dampak psikologis berupa rasa minder.
| Jenis Motivasi | Karakteristik Utama | Dampak Jangka Panjang |
| Motivasi Eksternal (FOMO) | Mengejar konten, gengsi kelompok, dan pengakuan di media sosial. | Semangat rentan padam ketika tren mulai ditinggalkan masyarakat. |
| Motivasi Internal (Kebutuhan) | Muncul rasa “bersalah” atau tidak nyaman jika melewatkan jadwal olahraga. | Olahraga bertransformasi menjadi kebutuhan tubuh dan gaya hidup yang konsisten. |
Tips Memulai Olahraga untuk Generasi Muda yang Sibuk
Bagi anak muda yang dihadapkan pada padatnya jadwal kuliah, organisasi, maupun pekerjaan, Dr. Eko menyarankan untuk tidak memaksakan diri mengikuti jenis olahraga berat tertentu yang sedang viral di linimasa.
Ia membagikan beberapa kiat praktis agar aktivitas fisik tetap dapat berjalan secara berkelanjutan:
- Prioritaskan Gerakan Sederhana: Tidak perlu sulit, aktivitas ringan seperti jalan kaki keliling kompleks, push-up, sit-up, atau sekadar peregangan (stretching) setelah bangun tidur sudah sangat baik asalkan rutin.
- Bergabung dengan Komunitas: Mencari komunitas olahraga yang sesuai dengan minat dapat menjadi faktor pendorong konsistensi sekaligus menjaga suasana latihan tetap menyenangkan.
- Pahami Manfaat dan Risiko: Kenali dengan baik esensi, kegunaan, serta risiko cedera dari setiap jenis olahraga yang akan ditekuni, lalu sesuaikan dengan kapasitas diri sendiri.
“Olahraga kecil-kecil tapi rutin akan menjaga metabolisme tubuh tetap stabil. Daripada satu minggu tidak olahraga, lalu sekali olahraga langsung berat dan akhirnya overtraining,” jelasnya menggunakan analogi pentingnya makan sedikit setiap hari dibanding makan banyak sekaligus dalam seminggu.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa olahraga sejatinya merupakan sebuah investasi kesehatan jangka panjang dan bertindak sebagai “obat alami” yang murah sekaligus mudah diakses oleh siapa saja. Tren di media sosial boleh saja menjadi pemantik, namun pemahaman kapasitas diri serta konsistensi adalah kunci utama menuju kesehatan yang berkelanjutan.









